Wednesday, June 28, 2006

langit nestapa di GajahNgemis

"Dimanakah letak bahagia itu Guru ?"

Resi GajahNgemis tercenung, ia yang tersohor di seantero negeri tak bisa menghindar dari pertanyaan murid putri kinasihnya. Bagaimana ia yang sehebat itu sumlengeren mendengar pertanyaan yang sedemikian sederhana. Ia yang mengajar semua jenis seni kedigdayaan di Padepokan GajahNgemis, dan mampu mengantar ratusan alumninya menjadi para satria pinilih yang berjaya, bertahta dan berkuasa di Krajan Awangga.

"Gendari muridku yang linuwih, dengan ilmu tumbak yang kau pelajari disini kau boleh memilih sendiri dimana koordinat tepatnya dari teka-tekimu itu ,kamulah yang terbaik " jawab Sang Resi.

"Tak bisakah kau ajari aku untuk membidiknya, Guru ?" Dewi Gendari merengek.

"Hm.."

"Ayolah Guru, bukankah padepokan ini yang pinunjul di seantero negeri ?"

"Sebaiknya kau ikut kursus ke padepokan lain untuk subject itu Gendari .."

"Trus, apa gunanya kedigdayan ini kalau tak bisa mengantarku belajar ke grade berikutnya di padepokan kita, Guru ?"

"Bukan begitu Gendhuk...di tempat kita kau akan bertambah sekti, tapi tetap saja aku tak bisa mbabar kawruh untuk bab yang kau minta"

"Baiklah kalau memang Guru tak mau.."

Demikianlah , puluhan purnama telah lewat, dan Gendari yang demikian tangkas memainkan tumbak menjadi tambah mahir, bahkan ia mampu menumbak omah tawon tanpa membuat mubal penghuninya dan mengaduk jembangan dengan gagang tumbak tanpa merusak bayangannya. Namun tetap saja ia merasa gagal menjadi titis untuk sebuah target yang tak ia kenali bujur dan lintangnya, tetap saja gamang untuk mengarahkan mata tumbaknya ke arah pusat kebahagiaan. Ia yang memanen rasa ketidakmampuan di ujung titik niscaya.

--------------

Halilintar seperti merobek pagi yang sangat terik itu, Gendari berdiri lunglai di depan Resi GajahNgemis, darah segar masih menetes netes dari dua lengannya yang telah buntung dan dari dadanya yang bolong memboreh merah, pandangan matanya yang kosong beradu dengan mata sang Guru .

"Aku telah membuntungi kedua lenganku dan mencerabut jantung dari tubuhku ..Guru" rintih Gendari .

"Oalahh..ngger muridku " Sang Resi mendesah panjang, menebarkan sasmitanya yang menjalar-jalar ke seantero negeri Awangga, menikamkan rasa nelangsa di setiap dada murid-muridnya, membuat seluruh alumni Padepokan GajahNgemis merinding dan terkoyak kesadarannya.

Sang Resi menunduk masygul, matanya memerah merapal kesedihan, cawan pengetahuan di tangan kiri bergemerincing menahan getaran tubuhnya yang tambun, sementara air di cawan itu telah tumpah ke tanah dan Gendari pun tak mendapatkan apa yang ia cari disana. Hanya bulir2 air yang mulai berbaur dengan tetesan darahnya. Langit nestapa membungkus bumi Padepokan.





Karmoleyo.

Untuk para ksatria GajahNgemis yang teriris.