Struktur organisasi di Jonggring Saloka sedikit mengalami pergeseran.Meski dirasa agak aneh ,karena lucut dari kebiasaan,penyampaian perubahan tugas dewa2 tersebut dilakukan oleh Batara Guru di kandang kuda.
"Tak apa , nggak semua pengumuman harus dibacakan di singgasana, yang penting esensinya " Kilah Batara Guru yang dianggap pemegang otoritas tertinggi para dewa.Yang tak kurang anehnya adalah tugas Batara Kala sang dewa yang hobinya minum darah wayang ,menurut skep yang baru mesti ngurusi kesejahteraan umat wayang.Dewi Uma yang tadinya nge-boss-i bidang perencanaan Suryalaya,karena disinyalir sering lirak-lirik dengan para raksasa negeri seberang kini disabda jadi bendahara saja.Meskipun Batara Guru berusaha untuk setenang mungkin menjelaskan acara lukir posisi ini tapi tak ayal dia merasa agak gerah atas cibiran para wayang yang rapi berjajar,tertancap di gedebog pisang.
------------
Diatas meja bedah Ki Semar terlentang dengan perut menganga.Dokter bedah dari team operasi itu masih melongo dengan pisau bisturi di tangan.Bagaimana tidak ? seolah kepiawaiannya tentang anatomi tubuh dicerabut dari kesadarannya.Tak terdapat usus ,paru, limpa ataupun jeroan lain dalam perut Ki Semar,melainkan sebuah miniatur tatasurya.Sembilan planet dengan aneka ukuran ngambang mengitari perlahan jantung Ki Semar yang beku dan mencorong ,mengikuti irama keteraturan.
Seorang anggota team, psikolog muda yang cantik dan berkacamata itupun tak juga bisa mengeluarkan analisa bahkan sketsa wajah Ki Semar yang buruk rupa, terlihat ayem dengan senyum menyungging namun mata Ki Semar selalu muwun berair menggambar kesedihan , kerut di wajah seolah menggoreskan tanda renta ketuaan sangat kontradiktif dengan jambul di kepala ala Tintin yang dicat merah melambang semangat ABG.
Hmm..sebuah paradoks,misteri dan Ibu psikolog muda itu hanya geleng2 kecil mewakili ketidaktahuan mutlak.
Tubuh Ki Semar terjereng beku ,tangannya terlentang ngaplah-aplah memperlihatkan buku2 jarinya yang besar2 khas orang lapangan yang akrab dengan kerjaan kasar.Kakinya lurus membujur ,memamerkan telapak yang melebar di depan , dilengkapi dengan rekahan2 radial di tumit ,kaki yang akrab menyapa tanah dan lumpur ,tanpa sadar memamerkan kedekatan telapak itu dari asalnya.
Batara Guru ,boss para dewa yang dianggap titis dalam tindak pun merasa gamang dalam mengenali sasmita yang disamarkan oleh keadaan Ki Semar.Ia bersedekap sedih disamping meja bedah ,berusaha keras mengurai teka-teki mati suri saudara kembarnya.Ya,Batara Guru adalah separuh dari ‘endhog amun-amun” yang disabda oleh Sang Hyang Wenang untuk turun ke jagat pakeliran,sedang separuhnya lagi menjadi Ki Semar .Sangat kontras dengan dirinya,Ki Semar adalah pribadi yang ndesit jelata apa adanya,gendut geol,berkulit gelap,bicara ngablak polos-polosan,buruk rupa dan kesrakat ,sedangkan ia adalah seorang priyayi ,boss para dewa,bicara mbulet dengan bahasa langitan,tampan berkulit resik, sakti mandraguna dengan body six-pax.
--------
Penduduk Karang Kedempel masih berkumpul di ruang tunggu UGD
.Menunggu dengan sabar hasil otopsi tubuh Ki Lurah Semar.Tak tampak gambaran kesedihan di muka para wayang tersebut terhadap keadaan lurahnya.Barangkali karena kesedihan dan kegembiraan hanyalah sebuah ukuran anugerah yang bisa disetal-setel seperti setelan volume radio ,demikianlah mereka selalu diwejang Ki Lurah Semar.
“ Semare tangi !” kata sebuah wayang dari Kedempel sambil tiduran.
“ Wah iya ,Semare tangi “ sahut yang lainnya sinambi leyeh2.
“Oalah..Ki Luraah…sampeyan urip ,Gusti Pangeran memang tidak tidur “ wayang lain bersyukur.
Para wayang dari Karang Kedempel tersenyum senyum menyaksikan lurahnya terbangun dan berdiri disamping Batara Guru. Mereka merasa sedang diwulang oleh lurahnya tentang seni perbedaan ,tentang bagus dan elek , tentang kepriyayian dan kejelataan ,tentang sugih dan melarat ,tentang panas dan dingin ,tentang melek dan merem ,dan ah..juga tentang bagaimana memegang teguh ‘setelan-nya’.
---------
“Semare tangi ?? “ Batara Guru tercekat ,ia melihat Ki Semar masih tetap terbujur diatas meja bedah ,masih juga dengan perut menganga,lengkap dengan tatasurya di dalamnya.
“Semare tangi …”
“Semare tangi…….“
Ah! ya..ya…semare tangi ,semare..sare..tidur ,tangi ..terjaga.Tidur tapi terjaga.Batara Guru manggut2 menjadi saksi wayang Kedempel yang merem tapi weruh ,setengah sare tapi terjaga,ndhodhok tapi ketok.
“Hm…sialan juga si Semar ini “ Batara Guru bersungut sungut.Ia merasa agak risih karena tak se-sensitif para wayang Kedempel.Melesat ia kembali ke Jonggring Saloka untuk melanjutkan otak-atik reshuffle dewa2 sambil uring2an.
Semare tangi…Semare tangi….
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
madhep ngalor..
madhep ngidul...
nyawang ndhuwur...
ndhingkluk..
akhire yo mung tetep bingung
No comments:
Post a Comment