Wednesday, October 18, 2006

mudik


Mudik ! itu kata mejik.Sebelum kaki mancal pedal ,sebelum bokong mendarat di kursi bis dan jok kereta maka pikiran sudah melayap sampai ke gang2 sempit dan jalanan di sekitar kampung tujuan .Imajinasi sudah menggambar dengan detil lauk pauk dan jajanan diatas meja yang disantap dengan keluarga dan kerabat ,warung2 yang mesti disamper ,teman dan sahabat yang akan disambang , arena wedangan yang terbayang dengan jelas di pelupuk mata bahkan rencana2 sudah terpampang dengan gamblang di alam angan .Bertemu bapa biyung yang sudah berangkat senja ,sedulur yang beranak pinak dan jarang jumpa seolah menjadi pusaran pekat keinginan dengan tarikan yang menyentak ulu hati .Semedhot ,orang Jawa ngarani, bahkan andai harus jumpalitan cashflow pun dilakoni .Dan ,ragapun hanya menjadi suruhan sang jiwa yang kepelintir pusaran daya yang membawa kita ke jagat lama ,kampung halaman yang dulu merengkuh kita, yang kini merenggang sejengkal dimakan uzur jaman .Tubuhpun hanya nurut manut dan manggut2 meski harus bertahan berjam-jam meliuk liuk di sepanjang pantura ataupun jalur selatan ( busyeet ! ,kata Ratu )

Ah ,Mudik !

Itu realitas alami yang bahkan dilakukan oleh segerombolan ikan salmon ,yang terlahir di hulu sungai ,berkelana ke arah hilir dan merantau ke lautan lepas bersama riak suka kadang derita .Ketika tiba waktu berkembang biak mereka menempuh deras air ,menantang curam ngarai memanjati air terjun .Sampai di hulu ,bertelur lalu mati.Sebegitunya, seolah GustiAlah menitipkan pesan wigati ke kita melalui perjalanan gamblang si ikan salmon menetapi pakem.

Ruwah ditimpa Pasa dan Pasa dihadang Sawal ,kemudian kitapun segera berhadapan dengan kenyataan ,rasa ingin yang kuat ,kesadaran yang bergelinjang ,tarikan magnet raksasa yang mendera seluruh pori2 jiwa ,untuk kembali ke muasal ,untuk mudik ,untuk pulang .

Mudik hanyalah sebuah miniatur sebuah contoh kecil2-an dari sebuah kepulangan yang musti terjadi,yang lebih besar yang lebih dahsyat , tak lebih hanya pelatihan dari kerucut lakon yang tersurat di kitab alam .

Dan mudik adalah pisau belati yang harus berpapasan dengan ungkal dan batu asah ,berulang gesek agar lebih bisa tajam dan mengkilat memercikkan kawaskitan dalam menghadang yang pinasti pasti ,mengenali jalan pulang.

*****

Sampai disini Adipati Karna putra Kunthi merapatkan sedekapnya .Hanya berdesis lirih " Jangan bersedih istriku SurtiKanti ,ini adalah rute yang telah digambar oleh Hyang Wenang ,menuju jalan kembali ,menemui ayahandaku ,ya sang cahaya ,ya Batara Surya ,ya remang blencong yang mencipta cerita di layar kain .Ini adalah ujung dari segala ujung ,tempat semua akan merapat dan kembali ,awang uwung dimana kesedihan dan kebahagiaan sampyuh tertelan kesempurnaan akhir " .Lalu Padang Kurusetra senyap .Semua sedang menyaksi Arjuna sang lelananging jagad menetapi suratan kitab lelakon ,merentang gendewa gading menyisipkan busur Pasopati yang akan mengantar saudara seibunya mengurai takdir .Ah ! Sang Adipati hanya menyungging senyum bahagia ,telah mengukir seluruh lintasan kehidupan dengan jalan satria ,menggenggam dengan rapat kebenaran pada setiap kelokan kisah,menorehkan kebaikan ke segala penjuru layar Ki Dhalang .Ia yang selalu tersadar oleh getar dan tarikan kepulangan di setiap nafas ,seperti wesi sembrani yang bersemayam di relung hati.

Sang busur menghunjam deras ,Karna tahu lekuk lekuk urat kayu Pasopati adalah peta mudik menuju sang cahaya ,sang cemerlang. Tembang Megatruh lamat lamat mendekap kebekuan Kurusetra ,mengantar sebuah kepulangan agung ,sebuah ritual mudik yang niscaya.

No comments: