Wednesday, April 05, 2006

sekaten

Stasiun Mbalapan ya masih seperti yang dulu dulu ,rengek sopir taksi dan pak becak di pintu keluar dengan logat jawa-kramanya yang sangat khas ditingkah derit roda kereta yang beradupaksa dengan rel baja,seperti nyayian langgeng yang ikut mengawal gerimis sore hari.
"Pun dherekaken mas..pundi ta tindake ? " Kusir andong menawarkan servisnya.
"Teng ler kalen mriku..pinten Pak ?"
"Lha monggo..sak-kersane.."
"Lha nggih pinten ?"
"Pun sak-kersane panjenengan ,lha nggih pun sonten sisan wangsul"
Seolah lucut dari ranah bisnis ,kesepakatan yang menggantung mengisyaratkan campuran harapan ,kerelaan dan kepasrahan.Pak Kusir mbatin tak ada beda antara lima ribu dengan sepuluh ribu toh besok masih ada hari , tak ada beda antara lor kali dan kidul kali toh yang keringatan kudanya ,tak ada beda dibayar pas atau lebih toh dengan yang pas atau dengan yang lebih ia tetap akan pulang karena senja mulai berkunjung,dan besok ketika matahari kembali ia akan berada di tempat yang sama ,duduk di jok yang sama ,merapal kalimat yang sama " Pun dherekaken mas..pundi ta tindake ? ".Di tanah ini sebagian masih mengandalkan kebersahajaan dan kesederhanaan untuk menghela keluar masuknya napas melintasi umur, lolos dari teori dan konsep ekonomi yang ndakik2 yang ujung2nya akan memaksa neuron untuk bersiasat.Entahlah!
---------------------------
Reco nggladhag terlihat agak suntrut , daun dan akar beringin yang menjurai dan melambai disekitarnya pun seolah malah membuatnya tambah merengut dan kesal.Ia butuh keleluasaan,keluasan sudut pandang dan referensi ruang yang lebih patut.Dulu ,sepertinya ia benar2 hidup berwibawa,dengan mukanya yang bengis dan murka menggengam gada,menjaga pintu masuk alun-alun,tempat para senopati perang memacak diri menggelar wadyabala.Ekor matanya yang melotot seperti mampu menguntit siapapun sampai ke bibir alun-alun. Sekarang ia agak merana ,bersanding pepet dengan sebuah bangunan megah ,sebuah trade centre berlantai tinggi.Siapapun tahu ,perbawanya seperti dilumat oleh keangkuhan pasar modern itu setelah sekian tahun ia sempat bersahabat dengan penjual kacamata , tukang obat dan kakilima akik pasca kejayaan para senopati.
-------------------------------
Syahdan ,racikan daun sirih ,sedikit enjet ,gambir dan kapulaga dan biasa disebut kinang itu mampu membuat awet muda.Tak di timur ataupun di barat manungsa selalu terobsesi dengan umur panjang dan keabadian.Sederet ibu2 penjual kinang bercengkerama, lepas dari persaingan ,menghiasi pelataran MejidAgung yang sedang direhab.Barangkali susuhunan Kalijaga sengaja mengabadikan posisi tebaran kinang ini disekitarnya untuk suatu maksud seperti biasa ia menitip kias atau entah ini hanya sebuah kebetulan belaka.Dari pendhapa yang eyub dan adhem ini pula seolah bangunan lawas menyeret pikiran untuk pelesir ke abad lampau ,saat tiang2 penyangga diramban dari alas jati ,saat usuk dan reng ditata berjajar oleh orang2 berjarik parang kusuma.Ah,sejenak pikiran ditikam oleh kehampaan dan bahkan sang waktupun sempat diam terpana di awang uwung...lesss.
Sayup2 lagu ndhangdut merambat dari lapangan alun2,penjaja obat 1001 penyakit monlait berkoar-koar ttg keampuhan ,memaksa pikiran kembali pada rel sariatnya.
---------------------------------
Sekaten telah tiba.Berjenis celengan berjajar rapi menyerupai perajurit Kasunanan yang siap melurug Kartasura.Gerobag berondong,kereta kelinci,pertunjukan ruang hantu,tong setan dan warung tiban berebut suara mengadu lespeker.Ibu2 yang berkeringat mengikuti anak2nya antri naik jungkat-jungkit dan jinontro ,menawar kodok2an ,seruling dan gangsingan.Kapal2an dari seng itu masih seperti biasanya ,tak ada perubahan disain maupun pilihan warna sejak belasan tahun silam ,si penjual sibuk menetesi ruang bakar dengan minyak jelantah ,barangkali rendiment siklus Carnot tak pernah terpenuhi pada kapal othok2 sekatenan ini.
Kias apa yang kau titipkan pada kami, Sunan ?

2 comments:

Anonymous said...

Wah, wah...
Seneng tenan bisa mbaca postingan seperti ini. Kangen tenan aku maring sekatenan.

Mbok ya, kalau boleh dipasang foto-foto sekatenan kanggo tombo kangen....

Anonymous said...

dhuh..sorry Kang
waktu itu gak sempat bawa jepretan