Wednesday, February 15, 2006

E H M

Seorang rekan Karmoleyo sepulang dari site di Kalimantan,mereparasi beberapa backhoe dan dumptruck pelanggannya bercerita dengan mimik muram,ia membagi oleh2 cerita tentang punggung gunung sepanjang puluhan kilometer yang seolah usai diiris dengan pedang raksasa ,menyisakan pemandangan roti lapis legit yang luar biasa besar dengan rona kecoklatan dan puluhan dumptruck yang mengangkut remah2 lapis legit tersebut meski radius rodanya lebih tinggi dari manusia dewasa hanya terlihat sebagai gerombolan semut yang beriring iring.Mereka mengangkut batubara.Tak pelak si rekan ikut merasa teriris dan nangis 'ndrenginging' menyaksikan dengan mata kepala dan hatinya sendiri punggung yang hijau lebat itu dibantai secara mutual ,kontinyu,sadis dan berjamaah.Dan ,si rekan merasa bersalah ,dengan skalanya sendiri ia ikut mereparasi kendaraan berat menyiapkan mata pedang untuk dihunjam ke punggung yang masih gungliwangliwung itu.
"Berapa saat lagi tempat ini habis batubaranya ? " dia bergumam.
"Wah...katanya di study nggak habis dalam 500 tahun ke depan " ujar pelanggannya yang mroyek disitu.
"Gustialah nyuwun ngapuro..." si rekan mendesis ,ia merasa ada di jamaah itu.
------------
Karmoleyo terkesima ,mencoba merangkai ingatan yang pendar-pendar tentang Kalimantan,tentang pembalakan kayu yang sudah seperti kanker ganas yang nggak ada obatnya,tentang perang etnis berdarah darah yang hanya bermula dari soal bokong , tentang perbatasan dengan negara tetangga yang naik turun temperaturnya,tentang orang hutan yang menipis populasinya ,tentang orang2 dayak yang tergilas proyek lahan gambut sejuta hektar , tentang si rekan yang merasa ikut merangsek hutan Kalimantan..
Ah..ah..tiba2 ingatannya terantuk pada sebuah buku yang dicernanya tiga bulan lalu,sebuah kitab pengakuan dari seorang yang yang menamakan dirinya EHM ,seorang putra dari keluarga biasa yang religius,yang bermetamorfosis menjadi salah seorang arsitek keterpurukan negara2 dunia ketiga.Yang meretas jalan untuk porakporandanya tatanan pemerintahan,penyakit sosial,hutang negara yang nyaris abadi,exploitasi sumber daya alam yang luar biasa binal sembari merusak lingkungan hidup yang membuat merinding bulu kuduk.Membaca kitab ini nyaris percaya nyaris nggak,untuk ukuran fiksi terlalu akurat terkait kronologis kejadian,waktu dan detail pendukungnya.Jadi ,jika buku berjudul Confessions of an Economics Hitman ini hanya sebuah fiksi sepemahaman Karmo pastilah John Perkins ,si penulis,adalah seorang yang handal meriset dan bertutur.Tapii...jika si EHM ini benar2 ada ,tentulah ia seorang blasteran dhanyang prapatan yang ikut mengimami jamaah perusakan hutan Kalimantan.
------------------------
Matahari menyirat warna lembayung , tanda senja mulai turun.Rahwana masih berdiri tegak ,tanpa kepala ,di ujung alun2 Ayodya. Simbahan darah bercecer di seantero lapangan ,menandakan terjadinya pibhu yang hebat.Dalam hitungan detik kepalanya yang terlepas menggelinding tertebas pedang kembali mencelat ke lehernya begitu menyentuh tanah.Tak diragukan lagi,aji pancasona lah yang membuatnya bisa bertahan seharian untuk mati dan hidup kembali.
Di ujung lain alun2 berdiri Sri Rama dengan muka tertunduk .Titisan Sang Wishnu ini hampir kehilangan akal untuk melenyapkan nyawa pendekar dari Alengka yang telah berani selintutan untuk mencuri istrinya.
"Kekekekek...hanya itu saja kesaktianmu bocah bagus ? bagaimana kau akan menjaga rakyatmu kalau untuk ngurusi dirimu sendiri aja gak becuuss..." Rahwana terkekeh.
Pendekar Alengka ini memang terkenal buas , selain serakah suka menggangu kerajaan tetangga juga sudah terbukti kekejian dan keterlibatannya dalam penganiayaan penduduk sipil ,pembantaian dan konspirasi genocide-nya.Selain haus kekuasaan ,raja Alengka ini juga terkenal sakti,licik ,pendengki ,srei,brangasan,jagoan korupsi dan suka lirak lirik istri2 orang .Hm..tak heran dengan curriculum vitae spt itu ia juga ngebet NiMas Shinta ,istri Sri rama.
Sri Rama tambah tertunduk,ia melurus niat menghadap Sang Hyang Wenang , memohon petunjuk untuk menghabisi raksasa yang superduper mbelis ini."Rentangkan gendewa-mu" sebuah wisik dengan bahasa paham meluncur ke dalam dadanya.Seketika ia merentang gendewa ,menjepit busur pusaka Mantili yang bergetar-getar menunggu mangsa.
"Heh..Rahwana ,putra Begawan Wiswara,inilah saatnya kau berangkat ke Suralaya menghadap Hyang Wenang ,barangkali kau ada pesan terakhir ..??" ujar Sri rama lirih.
"Kekekek...sudahlah Rama,gak usah kemaki kau ini,asal kau pinjamkan NiMas Shinta semalam saja utk kukeloni ditambah sedikit konsesi utk ikut ngebor minyak di negrimu ,aku bebaskan nyawamu dari tanganku !"
Bergidig Sri Rama mendengarnya,busur mantili melesat menuai takdirnya bersiut bagai jerit beliung ."Thas !" ujung busur itu menebas leher sang raksasa,seketika darah rahwana muncrat memenuhi langit jingga Ayodya menebar bau amis dan menggumpalkan greget angkara murka ,keserakahan ,ketamakan ,kebengisan,kelicikan ,ketidakpedulian di setiap titik darah .Percik2 darah itu terus membumbung ke angkasa raya menembus ruang tatasurya ,terus melesat meninggalkan galaksi , terusss...milyaran tahun melesat.
------------------------------
P R A T ..!!
Cipratan darah segar itu mengenai jas necis para anggota dewan
Prat..prat..mengenai tubuh para pembobol BLBI ,mengenai para comblang kasus di Kehakiman,mengenai seragam para pembalak hutan,mengenai para pencuri minyak anak cucu,mengenai pintu depan Mahkamah Agung ,mengenai gerbang kantor Komisi Yudisial,nyiprat juga ke orang2 proyek,muncrat ke rumah rumah ibadah ,ke jalan Toll yang lagi ambrol ,ke rumah2 pribadi ,kolong jembatan,ke tivi2 ,ke ...ke...
Ahhhh,aneh sekali semua baik2 saja ,tak seorangpun yang kecipratan merasa terganggu atau tersiksa.
"Gustialahh..nyuwun ngapuro !!"

No comments: