Nggak tahu gimana awalnya ketika Karmo terbangun dia sudah tergeletak di dalam kotak besar ,bercampur dengan ratusan lembar wayang yang lain.Walah..yang bikin hati ciut,kini tubuhnyapun jadi kerempeng pipih seperti wayang layaknya.
Kloneng..kloneng..Gending mereda dan Ki Dalang melantun suluk :
Eaeoo..Lha dallahh..
Ya samono iku bebasan
Padu-padune kepengin
Nggayuh wohing jaman edan
Sanajan linuwih ing ngilmu
namung kangge tumindak ala
Muhung mahas ing asepi
Supayantuk pangaksamaning Hyang Suksma
Drog..dog..dog..
(gunungan ditancapkan)
Ki Dalang pun mengangkat tubuh Karmo dari dalam kotak,dan dengan sasmita berwawansabda dengan Karmo.
Ki Dalang : " Heee..Karmo , hari ini kamu nggantiin Werkudara ,ya ? karena tempo hari dia terkena gada raseksa sehingga kulitnya rowak-rawek dan sekarang lagi di-repair di ngalun-alun lor. "
Karmo : "Walah..kalo bisa jangan saya Ki ,pertama saya nggak segagah Werkudara alias Bima dan yang kedua saya ini masih kamanungsan dan gak biasa maen sebagai wayang kulit apalagi nggantiin si Bima yang trademark-nya sedemikian beken di jagat pewayangan.Yang ketiga,kalopun terpaksa harus nggantiin lebih baik saya nggantiin Si Arjuna saja yang tiap hari kerjaannya cuma main playstation di Keputren."
Ki Dalang : " Husssh...kamu ini jangan sembrono,aku ini lagi ditanggap utk memainkan lakon Bima Suci ,jadi butuh gantinya si Bima bukannya Arjuna,lagian di lakon ini si Arjuna tak suruh istirahat dulu di kotak,kemarin dia bilang agak masuk angin "
Karmo : " Waalah..,lha monggo kalo itu maunya Ki Dalang ,saya mah cuma pemain cadangan .Tapi Ki, saya hanya mau menggantikan posisi si Bimo kalau Ki sebagai dalang membiarkan saya improvisasi sendiri,jadi..Ki gak usah ikut ngatur atur.Gimana ,setuju ?"
Ki Dalang : " Lhadalah..! apa jadinya lakon Bima Suci kalo kamu malah mau improvisasi sendiri ? "
Karmo : " Tenanglah Ki,aku tuh udah puluhan kali melihatmu menggelar lakon ini,jadi untuk tahap awalnya aku akan gantikan dulu judulnya menjadi Bima Keli , piye Ki ? mantap khan ?
Ki Dalang : " Wess..karepmu-lah , yang penting jangan terlalu jauh keluar dari pakem , ya.. "
Karmo : " OK Boss ..."
=====================
Syahdan ,karena saratnya kemungkaran di Kerajaan Jodipati maka keadaan kacau sudah menjadi kembang dari kehidupan sehari-hari.Molimo bahkan seperti menjadi adat ,para punggawa sudah akrab dengan semua tindak buruk , ala dan culika ,memeras rakyat ,menggondol bantuan asing dan membawa pulang duit utangan negara .Para anggota dewan sudah nggak ngurus lagi teriakan konstituennya tapi malah terakhir ini minta naik tunjangan menjadi 10 jeti.Padahal harga2 BBM sudah dikatrol hampir 2 kali lipat .Rakyat miskin sudah menjadi super miskin sementara para kiai malah terbelah menjadi geng yang saling bertikai.Rakyat bingung dan tak tahu juntrung ,saking melaratnya hatinya menjadi kering , mudah terbakar hanya dengan sedikit api provokasi.Lihatlah ,koran PosKotaJodipati sudah terlalu sarat dengan berita kejahatan hingga tak tersisa kolom buat jual-beli mobil seken.
Hati Bimo (yang dimainkan oleh Karmo) pun meranggas kering karena day-to-day nya tercelup atmosfir Jodipati yang terasa panas lantaran selalu disepuh oleh sang angkara.Tersebutlah Pendhito Durno ,seorang kiai dari pihak Kurowo yang sadar atas kondisi ini dan ingin memancing di air keruh .Beliau ini memiliki kawaskitan, kelak Si Karmo inilah yang akan membuat kisruh di Padang Kurusetra karena kebolehannya ,dan akan membabat habis pihak Korawa.
Pandhito Durno : "Hee..satrio Karmo,apa yang kamu pikirkan sehingga mukamu terlihat kusut dan gundah ?”
Karmo : “ Begini Ki Pandhito,saya itu sudah jengkel sekali melihat situasi Jodipati yang sudah gak karu2an , saking rusaknya tatanan berkehidupan disini sampai2 saya sudah gak ngerti mau ngapain”
Pandhito Durno :” Oalahh..ngger anakku ,calon komandan di medan Kurusetra,jangan kecil hati gitu ,namanya satrio nggak pantes kalo kerjaan cuma komplain melulu,kamu itu bisa kalis melewati jaman ini dengan sukses dan kabul semua keinginanmu kalo bisa menemukan yang menjadi kunci pembuka perbendaharaan langit “
Karmo : “Wah ..wah.. bener tuh Ki ? , lha kuncinya apa tho Ki ? “
Pandhito Durno : “Kamu akan menjadi satrianing jagad kalo bisa menemukan susuhing angin (sarang angin ) “
Mendengar pituduh dari sang Begawan tanpa pikir panjang Karmo pun njranthal ,memulai laku ,tanya sana sini ,ikutan seminar ini-itu,browsing di internet dll untuk dapat informasi ttg dimana topan badai,lesus,Wilma,Katrina,dan teman2nya bersarang.
Nihil,Nol buntung , begitulah setelah berbulan bulan usaha pencarian ini tak membawa hasil,sampailah padanya sebuah wisik dewata yang mengabarkan bahwa di penghujung pulau sebelah timur ada resi yang punya info ttg susuhing angin ini ,namanya Ki DewoRuci.
Siplah ,pikir Karmo.Sore itu juga dia mengambil penerbangan terakhir ke arah timur , setiba di bandara perjalanan masih harus dilanjutkan dengan travel sampai tujuan akhir tempat Ki Ruci bermukim.
DewoRuci :” Kisanak Karmo,selamat datang di desa kami yang sepi ini ,maaf ya tapi sebelumnya saya akan beritahu kalo wisik yang anda dapat itu agak keliru,saya tak punya pengetahuan ttg susuhing angin..”
Betapa terperanjat Karmo ,sang resi sudah tahu namanya bahkan tujuannya datang ke tlatah ini .
Karmo : “Ki Ruci,maafkan saya ngeyel ,tapi wisik saya jarang meleset ,apalagi dengan kawaskitan Ki Ruci bisa tahu nama bahkan tujuan saya sebelum saya uluk salam…”
DewoRuci : “Lah..bukannya kemarin sampean sudah SMS duluan..”
Karmo : “ Ohh..iya ya ? sori ya Ki ,lagi banyak pikiran ,kadang lupa ..,tapi intinya Ki saya yakin anda paham maksud saya dan tahu jawabannya ”
DewoRuci : “Terlalu berat kisanak ,sampean tuh cuma dikerjain aja sama Pandhito Durno, kata sahibul hikayat para dewata-pun tak tahu dimana letak susuhing angin ,apalagi saya yang berpengetahuan rendah ini .Tapii…supaya perjalanan kisanak ini tidak sia-sia ,barangkali saya bisa bantu dikit2 ,saya ada sedikit pengetahuan ttg mlebu-metuning napas alias darimana datangnya napas yang keluar masuk mulut kita ini …”
Karmo : “Bukannya itu datang dari paru2 , Ki ? “
DewoRuci : “Kekekek…hanya ada 2 kemungkinan , pertama sampean ini wayang sableng yg nggak pernah nyimak apapun ketika tapabrata , atau kedua sampean ini seneng cengengesan sambil buka2 atlas kedokteran .”
Karmo :”Baiklah Ki Ruci,saya mohon anda agak bersabar atas kebodohan saya “
DewoRuci : “OK..OK..sekarang masuklah kedalam telinga saya ,lalu belajarlah “
Karmo : “Weleh..weleh..gimana caranya saya yang segedhe ini bisa masuk ke telinga sampean ,Ki Ruci ?”
DewoRuci : “Oalaah ngger anakku,henpon-mu yang bagus, badanmu yang besar dan dompetmu yang tebal telah membuat dirimu sombong dan kemlinthi,berkacalah ! merdu mana ring-tone poliponikmu itu dengan kicau orisinil burung perkutut ,tinggi mana tubuh gempalmu itu dengan gunung ,jembar mana dadamu itu dibanding dengan segorokidul ,dasar jiwa kemaki ,kalau kau makan di warung padang itu kau baru bayar nasinya ke pemilik warung ,samasekali tak pernah mbayar ke Sang penumbuh sebulir biji beras menjadi serumpun padi. Apalah dirimu di-compare dengan jagat agung ini ..? “
Bagai sabdo pinandhito tubuh Karmo langsung menyusut ,mengecil menjadi sebesar semut.Ia pun terseret memasuki lubang telinga Ki Ruci ,melewati lorong2 tulang martil,lorong gelap tympani hingga sampailah Karmo ke ruangan semirip rumah siput .Di dalamnya ternyata telah hadir banyak orang ,membuat kelompok2 kecil dan duduk melingkar.Lho ?bukankah yang sedang diskusi dgn bbrp orang dipojok itu Ki Ruci ?Gimana bisa ia berada di dalam liang telinganya sendiri ? .
DewoRuci : “Kemarilah ngger ..,perkenalkan ini teman2ku,yang pake jas lengkap itu Kalijogo, ini yang kuciran SitiJenar ,itu Dimitri Mendelyev,itu Isaac Newton,yang ini Sri Kresna ,itu Plato dan ini Ibnu Rusyidi .Kau lihat kelompok sebelah itu ? ada Gautama, Mozart ,Sri Paus ,GajahMada ,Galileo ,Imam Syafii , Graham Bell ,RonggoWarsito dan Kidir ..Ah iya,masih ada ratusan kelompok lain di dalam rumah Keong ini ,silahkan engkau jalan2 sambil mendengarkan diskusi mereka.“
Karmo terperanjat mendengar deretan nama2 yang disebut Ki Ruci .Tak dinyana para begawan ulung dari berbagai background dan jaman lagi pada kongkow2 di rumah Keong ini .
Karmo : “Maaf Ki Ruci ,anda dan bapak2 ini lagi pada ngapain ?”
DewoRuci :” Ini lho ..hari ini di kelompok ini kami mendengarkan presentasi dari Kalijogo ttg teori Transportasi.Kata dia Newton harus agak legowo karena dari hasil diskusi kemarin ada kemungkinan mengkeret-nya dimensi waktu dalam persamaan energinya yang kondang itu akan direvisi ,bukan begitu Kalijogo ?”
Kalijogo :”Jadi begini..tempohari Mendelyev ngasih sample ke saya sekantong pasir dari Galaksi Whirpool ,dari situ ternyata ada partikel yang berat atomnya sedemikian gedhenya sehingga tiap jumput materi tsb beratnya hampir 80 ton ,sedangkan partikel lain bernama mayon yang ringan ,saking ringannya sampai2 massa irisan atomnya dekat dengan nol.Nah..kalau mayon ini saya percepat dalam cyclotron buatan SitiJenar dia bisa melesat dgn kecepatan 10 pangkat enam kali kecepatan cahaya ,jadi…bla..bla..bla.. “
Karmo : “ Aargghhh…!!
Bagai disambar petir rasanya ,Karmo terjengkang ke belakang ,merosot ,berputar terbawa angin puyuh keluar dari liang telinga DewaRuci.
Gedebug !! Ketika matanya melek dia sudah lemas lunglai bagai tak berotot,nglumpruk di kaki sang resi , matanya masih berkunang kunang , telinganya berdengung dengung…
==================
Setelah siuman dari telernya Karmo mendapati dirinya masih ndheprok dihadapan Ki Ruci .Besar niat hatinya untuk mendapat wedharan ttg rahasia rumah Keong.
Karmo : “ Ki Ruci, apa yg terjadi ? bolehkah aku masuk lagi dan menetap di rumah Keong ?”
DewoRuci : “ Ngger thole ,tak baik melawan kodrat waktu.Pada saatnya, hasil diskusi dari ratusan kelompok di rumah Keong akan di pakai utk menyingkap teori mlebu-metuning napas. Bersabarlah dan mulailah belajar ngaji .”
Karmo : “ Kalau begitu saya akan mulai sinau ikrok ,mengeja alip-bak-tak , Ki”
DewoRuci : “Kekekek…pejamkan matamu,tutuplah kedua kupingmu lalu lihatlah wit gedhang (pohon pisang) di galengan sawah itu.Perhatikan bagaimana ia bergerak tumbuh dari tunas ,menjadi batang yang kokoh ,berbuah ranum ,lalu ambruk dan mati ,bosok di dalam tanah.Perhatikan dan pegang maknanya Karmo,sejatinya wit gedhang sendiri memberi penalaran jarwadhosok ,gedhang “digeged bene padhang” ,dipegang erat erat2 agar kamu bisa mendapat penerangan ato penjelasan. “
Karmo :” Ohhh…,bisakah sampean bicara lebih jelas Ki ? jangan munyer2 saya agak bingung ,neh ..”
DewoRuci : “ Kekekek..tak jelaskah uraian guru ngajimu wit gedhang ? baiklah ,peganglah batu ungkal sebesar punggung kerbau ini ,sekarang tugasmu hanya merasakan..ya..merasakan…”
Karmo : “Yaa..namanya watu (batu) ,pasti rasanya keras .Tapi..eh..eh..sepertinya watu ungkal ini bergerak gerak ,Ki.Hoyag hayig kekanan-kiri , nggak setabil .”
DewoRuci :” Ya..ya..benar seperti itulah ,watu ungkalpun dapat diurai lewat jarwadhosok , ungkal “ungkeb-ing kalbu” ,yang di dalam hati ,tentu saja yang namanya hati yaa..hoyag hayig , mbolak mbalik ,ngepot kanan-kiri.Begitulah kira2 wedharan-nya ngger,endhapkan dalam pengertianmu ”
Wahh..wah..Karmoleyo semakin terbawa hanyut dalam ketidakmampuan dan kejumudan olah pikir.Langit pun mulai rendah bergayut,halilintar ngampar ampar ,pandangannya semakin kabur ,hilang orientasi barat timur utara selatan ,anginpun mulai keluar dari susuhnya ….
Glodhag !!
Kembali ia tergeletak di dalam kotak besar ,bercampur dengan ratusan lembar wayang yang siap dimainkan oleh tangan Sang Dalang .Terbangun ia ,meraih kesadarannya ,mengais ,memilah dan mencari diantara tumpukan wayang ,dimana gerangan sang DewoRuci.Dimana engkau yaa..DewoRuci.Kasihan Karmo,gero2 nggak keruan ,jangankan meng-angan susuhing angin sedang mencari DewoRuci di kotak wayang saja ia tak mampu,oalahh..ngger sadarlah kalo DewoRuci tepat bersemayam di otak kananmu.
(gunungan ditancapkan)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
madhep ngalor..
madhep ngidul...
nyawang ndhuwur...
ndhingkluk..
akhire yo mung tetep bingung
2 comments:
Ingin menjual atau membeli mobil & motor dengan cepat ? kunjungi
MOBILMOTORMALL.COM - Jual Beli Mobil Motor - Bursa Iklan Mobil Motor - Info Harga Mobil Motor
Senadyan telat, ing tahun 2012 iki lakon wayange Ki Lingak Linguk isih gress. Matur nuwun Ki, dene wus kersa paring wejangan bab "mbayar Warung Padang". Iki dudu wayang biasa, iki cetha wayang makripat billaah. Nuwun.
Post a Comment