
Meski hanya dengan 98ribu rupiah, kami bersepuluh telah menjajal kepiawaian Eddy memutilasi roti bakar dan memoles celah2nya dengan cokelat dan keju.Dengan itupun sudah membuat kami merasa tenteram dan tergelak lepas ,sumprit ! itu dana legal ,sebagian sisa kas dari wedangan Kemin di Monumen Pers lepas lebaran,tak berkait dengan dana taktis ,apalagi sampai ratusan ribu yu-es-dholar.Ck !
"Ada undercover story nggak ,Lus ?"
"Nggak ada,semua sudah ada di liputan"
"Ayolah..pasti ada ,sedikit aja ttg para rekanan itu "
"Bener Om,gak ada..."
Ki Tulus sepertinya bener-bener sesuai dengan namanya :tulus ,sayapun tak memaksa.Barangkali ada benarnya ketika ia mengurai teori kekusutan waktu sebagai derivasi dari hiruk pikuk yang menguasai metropolitan ini,ketika nilai2 yang paling basic pun sudah disusun njempalik,ketika logika kita dipaksa untuk mengeja :kriminolog papan atas mulai menghuni rutan.Sedikit tercengang saya melihat Ki Tulus bersisir ala Bojes.
Sayapun harus mahfum,menyaksikan Ki Indria yang awet muda,mungkin terkena sawan AFI.Buat saya yang biasa dengan pekerjaan kasar ,barangkali akan butuh kalibrasi sana sini ,untuk bisa bertutur dengan para artis tanpa rasa kelu.
"Kae ketok-e bintang pilem yo,Pak ?"
"Sing kathok-e rodo mlorot ?"
"Dudu..ngarep-e,sing lanang"
"O..kuwi Edo Kondologit,suarane rodo apik"
"Oh..."
Ki Danang dan Ki Arif adalah sebuah figur acuan untuk memberikan makna yang tepat untuk sebuah kata : makmur.Saya agak merasa kecil hati ketika ada yang bisik bisik " jumlah di rekening,berbanding lurus dengan berat badan" .Jadi pengin gemuk neh !
Pandangan Ki Tomo ke arah roti bakar seolah tembus sampai ke bawah meja dan terus ke-forward sampai rumahnya nun jauh di Surabaya.
"Krasan Tom.."
"Wah rapati je "
"Bolak-balik terus yo.."
"Iyo ki , rodo abot " sembari menggesek bbrp kali ujung jari telunjuk dengan jempol.
Eniwei,Selamat ya Ki Tomo atas kelahiran putrane.
Sangat mudah mengenali yang satu ini,saya jabat tangannya erat .
"Piye Jek ,apik apik wae ?"
"Biajiret..."
"Wes suwe ?"
"Biajiret ,aku teka kene dhisik dhewe"
"Lha endi ?jarene arep mbok cangking saka Kelapa Gading?"
"Biajireettt...kekekekek..."
Komentar komentar Ki Jeki malam itu terasa polos dan runut tanpa sensor,mungkin karena malam itu ada anggota tetap yang berhalangan hadir.Ulasannya selalu tajam kalau sudah memasuki ranah wingit.Dari Tia afi sampai Tika yang agak mbungkuk udang tak lolos dari liputannya.
Ki Rusly masih seperti biasa,sumeh,lebar dan selalu berbaik hati membagi-bagi CD gratis.
"Ini isinya apa ,Rus ?"
"Biasalah..he..he..,ditanggung lemes "
"Genesis sama Basiyo ada gak ?"
"Udahlah..itu dulu "
"Rus,namamu itu Rully apa Rusly ,seh ?"
"Ya kalo antar kita bolehlah Rusly ,tapi kalo aku lagi di EX ato Planggi biasa pake Rully,biar agak gaul gitu loh .."
Entah karena masih agak penat ato apa Ki Hendi kelihatan banyak berpikir malam itu.
"Udahlah...jangan terlalu dipikirin,dia memang anak itu sifatnya begitu.."
"Ck..wah berat je"
"Ya..pasti ada solusinya"
"Yang ini mungkin agak lain"
"Janjane opo to pak masalahe ?"
"Iku lho..bab POLIO"
"??????"
Nasi gurih itu bisa di-lawuh-i apa saja,tapi suara mase mendayu dayukan tembang 'Amung Lamis" bergantian dengan sepasang pemetik siter membuat pengabadian digital besutan Ki Agus Genter menjadi agak sentimental .Naluri sayapun meng-amini apa yang yang saya sitir dari Ki Tulus "Tegur sapa lewat cara apapun pastilah lebih berharga ketimbang tidak" .
Semoga.
madhep ngalor..
madhep ngidul...
nyawang ndhuwur...
ndhingkluk..
akhire yo mung tetep bingung