Wednesday, December 01, 2004

Bu Kepsek



Matahari belum sepenggalah.Bubaran sholat Ied di prapatan kampung itu ditutup dengan salam2an sambil maaf2an.Tiba2 mata Karmoleyo terantuk ke sebuah profil,seorang Ibu yang sudah keperak-perakan rambutnya,tapi raut itu samar2 masih ia ingat.Ya..ya..Itu bu guru SMA nya tempo dulu.

"Sugeng riyadi ,Bu...saya dulu murid-nya Ibu" Karmoleyo berusaha nge-link dengan takzim.

"Oh..mas siapa ini,lali aku , wah..ya memang sudah tua,sudah lama pensiun" Si Ibu berbinar binar.

"Saya Karmoleyo ,Bu.."

"Oalahh..ngeer..iki putrane sing nomer piro?,wes piro kabeh-e? , sak-iki lenggahe ngendi?" Si Ibu sibuk ngelus-elus gundul anak2 Karmoleyo.Pembicaraan hangat pun melumerkan suasana pagi.Karmoleyo tiba tiba merasa sangat dekat dengan ibu guru-nya , padahal dulu waktu sekolah tak seperti ini.

"Wah,mas..aku melu bungah ,panjenengan wes kasil ning paran" Bu guru menutup percakapan pagi itu ,sambil memeluk Karmoleyo,ya..memeluknya...dan hatinya tambah nggak keruan ketika ternyata melihat ibu guru itu melelehkan air mata ,hanya melihat keberhasilannya beranak pinak.

Cangkang mata Karmoleyo tiba2 terasa hangat dan basah,pikirannya melesat ke belasan tahun silam ,saat ibu guru itu mengajar di kelasnya.Ada sedikit rasa menyesal,ibu guru itu dengan sabarnya menjelaskan materi pelajarannya ,ketika pada saat yang sama di deretan bangku paling belakang Karmoleyo sedang sibuk menyimak buku dibawah laci ,Winnetou Gugur besutan Karl May.

Oh benar,tak bisa dipungkiri kebenarannya ,ibu itu turut mengantar keberhasilan Karmoleyo beranak pinak,dan itu adalah anugerah.

--------------------------------------------------

Sekian ratus siswa menegakkan umbul2 di halaman sekolah.Mereka punya tuntutan final: Bu Kepala Sekolah harus lengser dalam waktu tiga kali 24 jam.Tuntutan itu sudah final ! tak ayal puluhan spanduk pun memanaskan suasana ,dihiasi orasi para wakil siswa.Seolah mereka mendapat ilham dari para senior-nya para mahasiswa yang telah duluan melengserkan presiden republik.Dan ,sekali lagi atas nama demokrasi sejarah menorehkan tintanya di lembaran SMA yang terkenal adem ayem dan 'katanya' berprestasi itu.Rupanya unggah-ungguh harus dilorot jika harus berhadapan dengan kata demokrasi ini .Jabangbayik ! kalian demo ibu kalian sendiri dengan umbul2 ,seolah sudah kering dari kata2 yang santun untuk sekedar bicara dan berkeluh-kesah.Menebar aib ke koran2 ,menceritakan tentang jedhing kita yang lumuten dan koreng di bokong kanan! Apalah juntrungnya piawai matematika dan fisika ,bahkan berebut piagam olimpiade ,jika tak bersanding dengan unggah-ungguh dan andhap asor.Memang kacabenggala kita tak kalah muram,sedang yang ubanan di parlemen pun dengan berderet gelar profesor dan doktor ,bergunjing dan berebut balung ,meninggalkan laku luhung dan berlagak mbilung.

Wahai yang sedang panas dan digadhang-gadhang oleh masa depan,tak perlu teriakan heroik dengan megaphone,sedang ibumu pasti mendengar ,meskipun kau hanya meringis.Ia pasti rela dan sabar dengan kebingunganmu ,mengais-ngais pengetahuan untuk kebaikan kelak . Ia pasti melindungimu , meskipun kau semua mbeling-goci dan nungkak krama,lenggak-lenggok hanya karena memakai badge warna ijo .Maka ,tak perlu lagi itu megaphone,karena ibumu mendengar.Ia mendengar.

Sudahlah...

Tak usah sedih Bu...

Semua pernah keliru,dan tak akan jauh2 dari kekeliruan.

Andai waktu bisa diputar putar dan dibolak- balik ,kalian pasti akan kangen dengan Bu Kepsek yang sudah dilengserkan,dan jika kalian tertetes airmatanya ,kalian akan layuh,jangankan megaphone dan umbul2 ,mengangkat pena-pun tak akan kuasa

No comments: