Tuesday, June 22, 2004

Perjalanan

Karmoleyo masih terlentang di atas tumpukan kardus,dibawah jembatan triple-decker.Samar samar masih terlintas suara kartu ceki yang dibanting ,ditimbrung pisuhan pisuhan keempat pemain.Sepenggalah darinya ,diatas sofa butut,tepatnya ,rombengan sofa butut ,Tarmin bermain dengan asap rokoknya membuat bulatan2 dengan mulutnya yang nyoro .

"Lama nggak nongol mase.." Tarmin memecah sepi,masih dengan mainan asap.

"Iya..lagi buthek " Karmoleyo menjawab sekenanya,pikirannya sedang piknik ke arah lain.

"Pagi tadi Kino diambil trantib,surungannya diangkut sekalian.." sela Tarmin ,suaranya parau agak nggak jelas ,makin terlihat kerut2 prihatin di dahinya.Si Kino anak keduanya dengan Kinah ,baru 12 tahun ,biasa menunggu gerobag kecil jualan teh botol.

Pikiran Karmoleyo menerawang dengan lanjah,bagai bidak karambol yang sebentar kesana sebentar kesini,bermain dalam dimensi ruang,mengunjungi tempat Kino dikrangkeng trantib,ruangan kecil yang mungkin lembab dan kucel.Angannya menerobos tempat Sumi kakak si Kino yang entah dimana ,mungkin lagi ider di bedeng para kuli yang lagi mbangun apartemen di seberang jembatan,dengan sebotol hand-body di tas kecilnya,Sumi yang menjaja services .Juga menyelinap ke rumah kardus di bawah triple-decker,hanya satu ruang ,ada kompornya ,ban mobil bekas,beberapa sandal jepit trepes dan amben beralas tumpukan kardus dimana Kinah dengan baju kumalnya tengah ngeloni si kecil ,Anisa ,ya ..Anisa namanya ,nama yang bagus,kata Kinah dia dapat dari bintang idolanya yang pandai goyang patah patah.Karmoleyo memacu angan,pikirannya terus menjalar ,melesat lesat ,mengarungi kemiskinan dan ketidakramahan hidup yang lekat dengan sahabatnya,Tarmin.

Tarmin sang pemulung kardus masih bercengkerama dengan asapnya.Keempat pialang ceki masih asik dengan permainannya .Karmoleyo masih terlentang dikardusnya ,meski aroma pesing dan bau amis kecoa merajai udara bawah jembatan yang bertebar nyamuk . Ia melirik ke tivi hitam putih usang yang terletak apa adanya diatas pagupon ,tempat Kino menyimpan merpati.Selintas terlihat Amin Rais yang disisir klimis lagi nyanyi dengan Gesang,menebar janji2 maut di sebuah warung wedangan.Indria yang wira wiri membawa mikrofon.Para undangan yang tergelak ,entah miris apa marem ,tapi auranya tak nyampai....kebawah triple-decker.

Malam merambat paralel dengan rasa gusar Karmoleyo,udara dingin bagai sebuah lonceng yang menandai hadirnya fajar.

3.30 pagi.Karmoleyo beranjak dari kardus, berjalan pelan menyusur trotoar.

-----------------------

Karmoleyo mruput ke kantor.Rutinitas pagi,secangkir kopi,browsing headline kompas,bloomberg,le monde,el pais dan usatoday,ratusan mail di inbox,schedule hari ini dan...ia pun terlibat rutinitas yang kongruen dengan asap rokok mas Tarmin,membunuh pelan pelan...

Ia mematut dasinya ,turun dari kantornya di lantai 32 .Sudah terjadwal ,sebuah presentasi ttg otomatisasi di sebuah pabrik sepatu,trolly2 yang menjalar secara pintar,mesin2 canggih yang menggeser fungsi buruh.Sebuah mekanisme handal yang cepat atau lambat akan menciptakan ratusan bahkan ribuan Tarmin lain...


Jakarta,undercover.

No comments: