Karmoleyo masih terlentang di atas tumpukan kardus,dibawah jembatan triple-decker.Samar samar masih terlintas suara kartu ceki yang dibanting ,ditimbrung pisuhan pisuhan keempat pemain.Sepenggalah darinya ,diatas sofa butut,tepatnya ,rombengan sofa butut ,Tarmin bermain dengan asap rokoknya membuat bulatan2 dengan mulutnya yang nyoro .
"Lama nggak nongol mase.." Tarmin memecah sepi,masih dengan mainan asap.
"Iya..lagi buthek " Karmoleyo menjawab sekenanya,pikirannya sedang piknik ke arah lain.
"Pagi tadi Kino diambil trantib,surungannya diangkut sekalian.." sela Tarmin ,suaranya parau agak nggak jelas ,makin terlihat kerut2 prihatin di dahinya.Si Kino anak keduanya dengan Kinah ,baru 12 tahun ,biasa menunggu gerobag kecil jualan teh botol.
Pikiran Karmoleyo menerawang dengan lanjah,bagai bidak karambol yang sebentar kesana sebentar kesini,bermain dalam dimensi ruang,mengunjungi tempat Kino dikrangkeng trantib,ruangan kecil yang mungkin lembab dan kucel.Angannya menerobos tempat Sumi kakak si Kino yang entah dimana ,mungkin lagi ider di bedeng para kuli yang lagi mbangun apartemen di seberang jembatan,dengan sebotol hand-body di tas kecilnya,Sumi yang menjaja services .Juga menyelinap ke rumah kardus di bawah triple-decker,hanya satu ruang ,ada kompornya ,ban mobil bekas,beberapa sandal jepit trepes dan amben beralas tumpukan kardus dimana Kinah dengan baju kumalnya tengah ngeloni si kecil ,Anisa ,ya ..Anisa namanya ,nama yang bagus,kata Kinah dia dapat dari bintang idolanya yang pandai goyang patah patah.Karmoleyo memacu angan,pikirannya terus menjalar ,melesat lesat ,mengarungi kemiskinan dan ketidakramahan hidup yang lekat dengan sahabatnya,Tarmin.
Tarmin sang pemulung kardus masih bercengkerama dengan asapnya.Keempat pialang ceki masih asik dengan permainannya .Karmoleyo masih terlentang dikardusnya ,meski aroma pesing dan bau amis kecoa merajai udara bawah jembatan yang bertebar nyamuk . Ia melirik ke tivi hitam putih usang yang terletak apa adanya diatas pagupon ,tempat Kino menyimpan merpati.Selintas terlihat Amin Rais yang disisir klimis lagi nyanyi dengan Gesang,menebar janji2 maut di sebuah warung wedangan.Indria yang wira wiri membawa mikrofon.Para undangan yang tergelak ,entah miris apa marem ,tapi auranya tak nyampai....kebawah triple-decker.
Malam merambat paralel dengan rasa gusar Karmoleyo,udara dingin bagai sebuah lonceng yang menandai hadirnya fajar.
3.30 pagi.Karmoleyo beranjak dari kardus, berjalan pelan menyusur trotoar.
-----------------------
Karmoleyo mruput ke kantor.Rutinitas pagi,secangkir kopi,browsing headline kompas,bloomberg,le monde,el pais dan usatoday,ratusan mail di inbox,schedule hari ini dan...ia pun terlibat rutinitas yang kongruen dengan asap rokok mas Tarmin,membunuh pelan pelan...
Ia mematut dasinya ,turun dari kantornya di lantai 32 .Sudah terjadwal ,sebuah presentasi ttg otomatisasi di sebuah pabrik sepatu,trolly2 yang menjalar secara pintar,mesin2 canggih yang menggeser fungsi buruh.Sebuah mekanisme handal yang cepat atau lambat akan menciptakan ratusan bahkan ribuan Tarmin lain...
Jakarta,undercover.
Tuesday, June 22, 2004
Saturday, June 12, 2004
Wawancara imajiner antara Bu Mega dan Pak Kwik.
Pak Kwik:" Lho , Mbakyu , sampean ki bikin platform ekonomi untuk kampanye
aja
kok nyewa konsultan , padahal saya sendiri khan bisa , lagian saya kepala
litbang-nya kandang bantheng,jelek2
khan saya juga ada ide ,kalau mau nrabas bilang dong..biar saya ada muka "
Mega : "Pak Kuik ,sampean ki pancen bakat mbalelo, yen ra mergo alesan
demokrasi dan nama partei mungkin
udah tak tendang dari dulu,sadar-o awakmu kuwi...."
Pak Kwik :"Lha ya nggak perlu emosian gitu tho , tapi konsultan anda
ngarang2 tentang pertumbuhan ekonomi
sampe 7% tanpa disampaikan cara2 nya itu yo ....agak nyolowadi,nggak terlalu
realistis..,itu lho sampean lirik
platform-nya Mas Amin Raes ,gaweane Cak Drajat ,kelihatan lebih
semart(maksud-e: smart) dan realistis untuk
diimplementasikan "
Mega: " Wes..lah,Pak Kuik,jangan banyak protes,yen sampean bosen di kandang
bantheng dan pengin "dhedhe"
nggolek vitamin D,ya sana ..ikut-o Amin Raes.Kalo nggak inget kata
'demokrasi' sebenarnya aku ini udah nggak
tahan sama sampean.Dan lagi,jangan sebut2 nama Amin lagi...
Pak Kwik:"Lho..jangan personal gitu Mbakyu...tapi kalo konsultan-e sampean
mau mampir ke kantor saya ,barangkali
saya bisa diskusi dengan mereka,kali2 ada ide2 yang lebih konkrit bisa
diusung di kampanye..,Mas Amin itu lebih terbuka
orangnya ,dia....."
Mega:" PAK KUIK !!!..."
Pak Kwik :"Kalau nurut saya,pertum.."
Mega:"DIAM..! "
Pak Kwik: (walah....wes...wes...mulai...dasar gembeng kreweng....)
aja
kok nyewa konsultan , padahal saya sendiri khan bisa , lagian saya kepala
litbang-nya kandang bantheng,jelek2
khan saya juga ada ide ,kalau mau nrabas bilang dong..biar saya ada muka "
Mega : "Pak Kuik ,sampean ki pancen bakat mbalelo, yen ra mergo alesan
demokrasi dan nama partei mungkin
udah tak tendang dari dulu,sadar-o awakmu kuwi...."
Pak Kwik :"Lha ya nggak perlu emosian gitu tho , tapi konsultan anda
ngarang2 tentang pertumbuhan ekonomi
sampe 7% tanpa disampaikan cara2 nya itu yo ....agak nyolowadi,nggak terlalu
realistis..,itu lho sampean lirik
platform-nya Mas Amin Raes ,gaweane Cak Drajat ,kelihatan lebih
semart(maksud-e: smart) dan realistis untuk
diimplementasikan "
Mega: " Wes..lah,Pak Kuik,jangan banyak protes,yen sampean bosen di kandang
bantheng dan pengin "dhedhe"
nggolek vitamin D,ya sana ..ikut-o Amin Raes.Kalo nggak inget kata
'demokrasi' sebenarnya aku ini udah nggak
tahan sama sampean.Dan lagi,jangan sebut2 nama Amin lagi...
Pak Kwik:"Lho..jangan personal gitu Mbakyu...tapi kalo konsultan-e sampean
mau mampir ke kantor saya ,barangkali
saya bisa diskusi dengan mereka,kali2 ada ide2 yang lebih konkrit bisa
diusung di kampanye..,Mas Amin itu lebih terbuka
orangnya ,dia....."
Mega:" PAK KUIK !!!..."
Pak Kwik :"Kalau nurut saya,pertum.."
Mega:"DIAM..! "
Pak Kwik: (walah....wes...wes...mulai...dasar gembeng kreweng....)
Tuesday, June 08, 2004
Sebuah Guyon Jenderal
guyon jendral...
jok dilebokno ati ,opo maneh dilebokno pikiran...
--------------
Kivlan Zein: "Idenya pertama itu adalah Wiranto perintahkan saya untuk
mendukung Sidang Istimewa. Dia mengatakan sama saya pada waktu 4 November
1998 jam 15.30 di mabes ABRI Merdeka Barat. Dengan garuk-garuk kepala
pusing, dia "Kiv kok semuanya anti SI? Cobalah kau kerahkan itu pendukung SI
jangan yang anti saja. Ini juga perintahnya Habibie . Dan kamu punya
pengalaman." 2 Mei 1998 saya merebut juga MPR dengan massa 50 ribu dari
tangan mahasiswa."
Karmoleyo: "Lho...,Pak Jendral , lha kalok yang ngomong itu mahasiswa
mungkin saya masih pikir2 , tapi lek sing omong itu sampeyan ,wah...ciloko
tenan."
Uang ikut bermain di sini. Menurut Kivlan Zein, pengerahan massa memakan
biaya Rp 7-8 miliar. Tapi yang dibayarkan Staf Wakil Presiden tanggal 11
November 1998 lalu baru Rp 1,25 miliar. Kivlan menjelaskan, berarti Wiranto
masih berutang Rp 5,7 miliar. Langsung kepada BJ Habibie, saat itu presiden
RI, sudah ditagih sisanya. Namun, kembali menurut Kivlan, Habibie
mengatakan, uangnya sudah di tangan Wiranto.
Karmoleyo,
jok dipikir...
jok dilebokno ati ,opo maneh dilebokno pikiran...
--------------
Kivlan Zein: "Idenya pertama itu adalah Wiranto perintahkan saya untuk
mendukung Sidang Istimewa. Dia mengatakan sama saya pada waktu 4 November
1998 jam 15.30 di mabes ABRI Merdeka Barat. Dengan garuk-garuk kepala
pusing, dia "Kiv kok semuanya anti SI? Cobalah kau kerahkan itu pendukung SI
jangan yang anti saja. Ini juga perintahnya Habibie . Dan kamu punya
pengalaman." 2 Mei 1998 saya merebut juga MPR dengan massa 50 ribu dari
tangan mahasiswa."
Karmoleyo: "Lho...,Pak Jendral , lha kalok yang ngomong itu mahasiswa
mungkin saya masih pikir2 , tapi lek sing omong itu sampeyan ,wah...ciloko
tenan."
Uang ikut bermain di sini. Menurut Kivlan Zein, pengerahan massa memakan
biaya Rp 7-8 miliar. Tapi yang dibayarkan Staf Wakil Presiden tanggal 11
November 1998 lalu baru Rp 1,25 miliar. Kivlan menjelaskan, berarti Wiranto
masih berutang Rp 5,7 miliar. Langsung kepada BJ Habibie, saat itu presiden
RI, sudah ditagih sisanya. Namun, kembali menurut Kivlan, Habibie
mengatakan, uangnya sudah di tangan Wiranto.
Karmoleyo,
jok dipikir...
Subscribe to:
Posts (Atom)
madhep ngalor..
madhep ngidul...
nyawang ndhuwur...
ndhingkluk..
akhire yo mung tetep bingung