Friday, May 28, 2004

DEMO-CRAZY

Karmoleyo panas hatinya ,terusik dia mendengar fatwa KPU yang baginya adalah
penghinaan.Junjungannya ini turunan orang2 sakti ,katanya.
"Meski panutan kita itu tak jelas bisa melihat,tapi mata bathin-nya
awas bagai elang,ngerti sebelum winarah... "
"Ya..ya..terkutuklah yang menghinanya,neraka tempatnya.." timpa karib
seperguruannya sambil mematut kopiah ,sebegitu yakin ia ,seolah-olah pernah piknik ke neraka.
"Ya..benar,hidup demokrasi , biarkan rakyat yang memilih..." sahut yang lain.
Maka bersiaplah Karmoleyo dan rekan2 seperguruannya ,lengkap dengan umbul umbul dan segepok setrategi andai harus bentrok dengan aparat. Maka sang Junjungan-pun nangis bathin.Ia yang sanggup melihat negeri ini selayak selembar papan catur,menggumam sendiri "wes dho edan tenan...",melihat bidak bidak catur yang berjalan tidak sesuai tatakrama .Beteng berjalan nyerong selayak mentri .Pion dengan genitnya mengundang ster untuk berselingkuh.Seolah bait dari Kalatidha sedang menitis ke jaman ini .

"Dasar karoban pawarta,
Bebaratun ujar lamis,
Pinudya dadya pangarsa,
Wekasan malah kawuri,
Yan pinikir sayekti,
Mundhak apa aneng ngayun,
Andhedher kaluputan,
Siniraman banyu lali,
Lamun tuwuh dadi kekembanging beka.

Persoalannya hanyalah karena kabar angin yang tiada menentu,
Diharapkan untuk memimpin tetapi akhirnya sama sekali tidak benar,
bahkan tidak mendapat perhatian sama sekali,
Sebenarnya kalau direnungkan, apa sih gunanya menjadi pemimpin ?
Jika hanya akan membuat kesalahan-kesalahan saja,
Lebih-lebih bila ketambahan lupa diri,
hasilnya tidak lain hanyalah kerepotan.

Kisanak...
Demokrasi bukanlah semirip dengan gudheg jogja,yang setiap orang bisa memasukkannya dalam mulut mrosot ke perut dan merasakan kenikmatan.Apalagi bagi yang bahkan belum teteh untuk menulis dan melafalkannya.Masih bingung mau pakai K apa pakai C,pakai I apa pakai Y.Mungkin menu ini lebih cocok disantap ditempat ia berasal.Dimana orang2 sanggup mengejanya dengan teteh dan tutuh,dengan perut yang kenyang,nalar matang dan pekerjaan yang pasti.Tentu saja tidak dirembug di tengah jalan raya ,diatas gedung parlemen,di lapangan yang panas dengan seribu poster dan umbul2 ,tapi barangkali di cafe2 yang pantas di sekitaran La Defence atau sepanjang bulevard Arch de Thriump ,dimana Ki Tulus dan geng-nya biasa mangkal.

Thursday, May 13, 2004

Tragedi Lali-Jiwo

Pelajaran paling penting yang mungkin harus diingat
warga kampung Lali-jiwo ini adalah 'mengingat' itu sendiri.Repotnya
gejala pelupa ini sudah sangat parah menghunjam ,bahkan untuk mengisi
blangko KTP pun orang pada lupa mencantumkan kampung Lali-jiwo.Dasar
jiwa yang pelupa.Tapi tak mengapa,karena Pak Carik-nya sendiri juga
manusia pelupa,sudah teken cek 40 miliar untuk mbangun irigasi kampung,
malah ia belikan tipi berwarna,dan ia bawa pulang.
Calon Kades yang cakep itu mrengenges di tipi,mukanya dimirip miripin
sama Ricar Ger bintang pilem idola ibu2 kampung.Minggu lalu ia dikuyo
kuyo sama Pak Kades gara2 kalah main badminton dengan kampung tetangga.
Ia hanya tertunduk,wajahnya melas dan itu mengundang simpati orang
sekampung .Ia pun dielu-elukan ,semua orang lupa kalau pada minggu yang
sama Ricar Ger dari Lali-jiwo ini habis nggebug-i Pardi Luwak sampai
babak bundhas hanya karena keliru sandal di langgar kampung.
Dasar pelupa,meski lumbung padi kampung Lali-jiwo sudah digadaikan ke
kampung sebelah sewaktu Pak Kades kalah main ceki,semua orang masih
suka foto bersama di depan lumbung.Tiada hari gothang tanpa utang,
nyaur pantang,hati senang tak peduli anak putu bakal mengerang.
Dasar pelupa,punya klambi sak lemari tapi anak putu dibiarkan wira-wiri
mbukak wadi.
Saking lupanya Pak Modin,waktu kehilangan motornya ia tak pergi ke polisi,
tapi ke Mbah wiryo Jrangkong ,dukun kampung yang ahli semua perkara.
Pak Polisi tersinggung ,tapi Pak modin sudah nggak ngrewes prosedur.
Mbah Wir : 'Ada perlu apa ,kisanak...?'
Pak Modin: (mbatin: wah..kalo maksud saya aja nggak bisa nebak,gimana mau
nyari motor saya)
'Saya mau menanyakan motor saya yang hilang ,Mbah..'
Mbah wir : 'Sebentar ya ,kisanak...'

Sementara Pak Modin menunggu, Mbah Wir sibuk wira wiri ,bolak balik,keluar
masuk kamar dan nggeledhah-i kolong meja.Gelisah.Bingung.

Pak Modin : 'Nyari apa tho , Mbah...?'
Mbah Wir : 'Ini lho,tadi habis mandi lupa naruh jam tangan saya dimana...'
Pak Modin : (wah...)
Mbah Wir : 'Kisanak,motor sampean sudah saya temukan,silahkan aja kisanak
gali pendhopo Balai Desa,motor itu ada disana'

Saking lupanya Pak Modin akan apa yang dibilang Mbah Wir ,mulailah ia
menggali ruang tengah Kantor Polisi.

Saturday, May 01, 2004

Sang Penakluk



"Maaf Pak ,bos saya tidak berkenan bertemu anda" ujar sekretaris itu dengan agak risih.
"Lho ? padahal saya baru terlambat 15 menit ,itu pun tadi saya di jalan telepon kalo kena
macet" Mas Waru berusaha berkilah.
"Sekali lagi maaf Pak , itu pesan dari Mashimoto san " dengan santun dia bersikukuh.
Alamak! niatan Mas Waru untuk closing deal dengan petinggi perusahaan elektronik branded
itu pudar.Ia berusaha untuk mendapatkan appointment lagi dengan Mashimoto , tapi rupanya
peribahasa 'Sekali lancung ke ujian...bla..bla...' lebih mendominasi suasana.Hari itu Mas Waru
belajar arti ketepatan waktu yang berkorelasi dengan opportunity.
-----------------------------
Kloneng...kloneng... semua orang bergegas membuka ransum makan siangnya , menyantap dengan
cepat.Setelah itu lampu dimatikan ,dan masih lengkap dengan pakaian bengkelnya mereka tidur siang
selama setengah jam ,berjajar seperti ikan sardin ,langsung sepi dan gelap ,yang ada hanya cahaya
dari monitor laptop Mas Waru yang masih sibuk ngetes mesin CNC sambil merekam solah tingkah
para foundry-man di bengkel manufaktur yang dari dalamnya keluar lebih dari seribu motor dari
berbagai seri perhari.
Kloneng...kloneng...semua orang bergegas bangun,memakai topi pengaman , sarung tangan , sepatu
boat dan kembali ke mesin masing masing.
Sudah tiga hari Mas Waru ada disitu ,ternyata 'kloneng..kloneng' adalah sebuah bahasa kedisiplinan
di lingkungan perusahaan jepang di kawasan Pulogadung itu.
-------------------------------
Sudah seminggu Mas Waru ngetem di Tokio.Kota yang ribet,riuh dengan manusia,serba mahal dan
sangat bersih.Sebuah kombinasi situasi yang unik dan tak lazim.Kota dari negeri empat musim ini bagai hutan gedung ,jalanan bagai kehilangan arah mata angin ,utara selatan barat dan timur adalah pencakar langit,peta rute subway-nya pun lebih mirip gambar spagetti di atas piring.Anehnya jalanan sedemikian bersih,
nyaris tak ada sampah,bahkan habis makan permen pun jadi tak tega untuk tidak meremas bungkus-nya
dan memasukkan ke saku celana lagi.Yang nyaris susah dipercaya,toilet umum-nya tak sempat pesing
dan jorok,terang dan tak ada grafitty-nya...
Minggu itu Mas Waru melihat sebuah contoh peradaban yang dibangun oleh para arsitek kebangsaan ,
yang tak sibuk dengan partai dan segala sengkarutnya , tapi lebih sibuk dengan acara 'penakluk'an.
Kereta api itu menaklukkan kecepatan ,dengan menempuh jarak Jakarta-Bandung PP hanya dalam sejam setengah.
Bangunan kuil di puncak gunung itu dibangun tahun 600an ,sebuah penaklukan terhadap struktur dan alam.
Chips2 tipis dan kecil adalah sebuah penaklukan alam mikro.
Elektronik dan otomotif ada di genggaman negeri ini.
Sang waktu dieja dengan kedisiplinan dan ketepatan
Kecurangan telah dikalahkan oleh rasa malu dan harga diri .
Negeri ini adalah negeri yang haus akan penaklukan.
------------------------------------------------