Saturday, May 01, 2004

Sang Penakluk



"Maaf Pak ,bos saya tidak berkenan bertemu anda" ujar sekretaris itu dengan agak risih.
"Lho ? padahal saya baru terlambat 15 menit ,itu pun tadi saya di jalan telepon kalo kena
macet" Mas Waru berusaha berkilah.
"Sekali lagi maaf Pak , itu pesan dari Mashimoto san " dengan santun dia bersikukuh.
Alamak! niatan Mas Waru untuk closing deal dengan petinggi perusahaan elektronik branded
itu pudar.Ia berusaha untuk mendapatkan appointment lagi dengan Mashimoto , tapi rupanya
peribahasa 'Sekali lancung ke ujian...bla..bla...' lebih mendominasi suasana.Hari itu Mas Waru
belajar arti ketepatan waktu yang berkorelasi dengan opportunity.
-----------------------------
Kloneng...kloneng... semua orang bergegas membuka ransum makan siangnya , menyantap dengan
cepat.Setelah itu lampu dimatikan ,dan masih lengkap dengan pakaian bengkelnya mereka tidur siang
selama setengah jam ,berjajar seperti ikan sardin ,langsung sepi dan gelap ,yang ada hanya cahaya
dari monitor laptop Mas Waru yang masih sibuk ngetes mesin CNC sambil merekam solah tingkah
para foundry-man di bengkel manufaktur yang dari dalamnya keluar lebih dari seribu motor dari
berbagai seri perhari.
Kloneng...kloneng...semua orang bergegas bangun,memakai topi pengaman , sarung tangan , sepatu
boat dan kembali ke mesin masing masing.
Sudah tiga hari Mas Waru ada disitu ,ternyata 'kloneng..kloneng' adalah sebuah bahasa kedisiplinan
di lingkungan perusahaan jepang di kawasan Pulogadung itu.
-------------------------------
Sudah seminggu Mas Waru ngetem di Tokio.Kota yang ribet,riuh dengan manusia,serba mahal dan
sangat bersih.Sebuah kombinasi situasi yang unik dan tak lazim.Kota dari negeri empat musim ini bagai hutan gedung ,jalanan bagai kehilangan arah mata angin ,utara selatan barat dan timur adalah pencakar langit,peta rute subway-nya pun lebih mirip gambar spagetti di atas piring.Anehnya jalanan sedemikian bersih,
nyaris tak ada sampah,bahkan habis makan permen pun jadi tak tega untuk tidak meremas bungkus-nya
dan memasukkan ke saku celana lagi.Yang nyaris susah dipercaya,toilet umum-nya tak sempat pesing
dan jorok,terang dan tak ada grafitty-nya...
Minggu itu Mas Waru melihat sebuah contoh peradaban yang dibangun oleh para arsitek kebangsaan ,
yang tak sibuk dengan partai dan segala sengkarutnya , tapi lebih sibuk dengan acara 'penakluk'an.
Kereta api itu menaklukkan kecepatan ,dengan menempuh jarak Jakarta-Bandung PP hanya dalam sejam setengah.
Bangunan kuil di puncak gunung itu dibangun tahun 600an ,sebuah penaklukan terhadap struktur dan alam.
Chips2 tipis dan kecil adalah sebuah penaklukan alam mikro.
Elektronik dan otomotif ada di genggaman negeri ini.
Sang waktu dieja dengan kedisiplinan dan ketepatan
Kecurangan telah dikalahkan oleh rasa malu dan harga diri .
Negeri ini adalah negeri yang haus akan penaklukan.
------------------------------------------------

No comments: